Perspective: Makna Pemaknaan oleh Cynthia M. Budijono

Terik matahari membasahi Bumi siang hari itu. Bersandar di pagar bambu bangunan sekolah Alfa Omega, saya memandang sekitar. Struktur bambu yang megah namun dapat berbaur dengan area sekitarnya secara rendah hati. Lekukan-lekukan atap yang seolah menyanyikan irama bambu. Bangunan yang menarik, pikirku. Kemudian pandangan saya beralih pada pintu masuk keluar sekolah. Deretan bambu kanan kiri yang saling bersandar secara alami sehingga menciptakan bentuk segitiga. Seperti telapak tangan yang bertemu saat seorang berdoa. Cukup ramai karena jam pulang sekolah. Beberapa terlihat berlari. Mungkin mereka terlambat janji? Atau mereka takut tertinggal bus? Yang jelas, cenderung mereka tergesa-gesa karena diburu detak waktu.

Seperti berat yang memiliki satuan gram, atau panjang yang memiliki satuan meter, mungkin kehidupan memiliki satuan waktu. Dari kita kecil, kita menerima fakta pahit bahwa waktu setiap orang di dunia ini terbatas. Setiap manusia tidak bisa lari dari kematian. Manusia saling kejar dengan waktu. Waktu kelulusan, pekerjaan, pernikahan, dan sebagainya. Semakin kita bertumbuh seiring waktu, seolah beban semakin berat saja. Bahkan, tidak jarang saya menganggap bahwa manusia adalah budak waktu.

Sebagai desainer ataupun arsitek, hal yang pada umumnya membuktikan kesuksesan adalah ketika sudah bisa menghasilkan banyak karya-karya yang dikenal dan dinikmati orang banyak serta berhasil membawa dampak positif. Namun untuk bisa mencapai kesana tentu perlu proses, dan proses membutuhkan waktu. Masing-masing mencari cara untuk sampai ke titik itu. Mencapai titik itu bukan hal yang mudah. Bahkan sebaliknya. Banyak yang berhenti ditengah jalan. Entah itu karena menyerah akan keadaan atau alih profesi karena ada prioritas lain. Dan ini adalah sesuatu yang wajar karena memang untuk mencapai titik itu perlu mengorbankan jerih payah dan waktu yang sangat jauh dari sedikit.

Tapi di lain sisi, jika saya renungkan kembali, sepertinya tidak hanya waktu. Sepertinya ada hal yang lebih penting dari waktu itu sendiri. Hal yang membuat kita semua melangkah bergerak, berjuang demi mencapai titik itu. Hal yang memacu kita untuk menutup retakan-retakan keraguan. Atau bahkan menjadi pendorong walaupun kita tahu kita belum tentu bisa sampai ke sana.

Dan hal itu adalah makna.

Jika saya amati, hampir semua desainer dan arsitek legendaris yang sudah meninggal tidak hanya pergi meninggalkan karya, tapi juga berbagai makna. Mereka memaknai karya dan pemikiran mereka. Dan bukan sekedar pemaknaan dangkal, melainkan esensial, mendalam, dan masuk logika. Walaupun mereka sudah berpulang, tetapi makna mereka tetap hidup. Sebagian bahkan masih relevan hingga sekarang. Sungguh betapa hebat bagaimana pemaknaan dapat melampaui kematian, melintasi ruang dan waktu.

Satu hal yang membuat saya senang akan pemaknaan ini adalah karena kita tidak perlu menunggu waktu untuk bisa mulai memaknai. Ya benar, kita tidak perlu menunggu hingga karya kita banyak dan berpengaruh. Kita bisa mulai pemaknaan sekarang, saat ini juga. Memaknai keseharian yang kita kerjakan, memaknai profesi kita, memaknai kehidupan kita, memaknai pemikiran pemikiran kita, memaknai segala cita-cita kita, dan seterusnya.

Saya teringat dengan kutipan yang diucap oleh Pak Tan Tjiang Ay pada salah satu diskusi beliau, yaitu “banyak orang melihat tetapi tidak mengerti”. Beliau mengingatkan betapa pentingnya bagi kita untuk melihat dengan pengertian. Mengerti makna dibalik, didalam, dari titik pusatnya. Makna.

Hendak jangan kita takut dengan teori banalitas. Teori yang mengatakan bahwa pada akhirnya semua akan kehilangan makna. Mungkin saja saya keliru, tetapi menurut saya, keberadaan teori ini dapat menjadi sebuah jebakan yang meresahkan. Mengapa saya katakan meresahkan? Karena jebakan ini bukan hanya dapat mengecilkan hati, tetapi dapat memicu kemalasan. Malas mencoba, sesat dijalan. Padahal yang menurut saya banal belum tentu banal bagi Anda.

Makna pemaknaan. Dorongan kecil untuk langkah keseharian.

Dan sebuah makna adalah relatif, atau mungkin bisa dikatakan bersifat subjektif. Kita memiliki kebebasan dalam bermakna. Tidak ada aturan kekal yang dapat membatasi pemaknaan masing-masing pikiran. Tidak ada salah, semua dibolehkan. Ia tidak terikat oleh apapun. Bebas larangan dan batasan. Ibarat sebuah utopia kemerdekaan.

Would you like to comment?

Leave a Reply