Menyeberang menuju Alenka by Bangkit Mandela

 

Ketika Pak Realrich menjelaskan kepada kami napak tilas dari proses pengerjaan sekolah Alfa Omega sebagai persiapan untuk Open House keesokan harinya, di kepala saya terbesit ingatan tentang petualangan Anuman. Alih-alih melihat keseluruhan proyek, saya tertarik untuk membahas koridor bambu yang membentang dari pintu masuk menuju bangunan sekolah.

Dalam epos Ramayana, Anuman adalah seekor/seorang kera yang mewujud manusia, atau sebaliknya (tergantung bagaimana kita melihatnya). Anuman lahir dari perkawinan antara Dewi Anjani (yang kebetulan tengah dalam kutukan menjadi separuh kera) dengan Batara Guru yang menjelmakan bibitnya pada sejumput daun asam. Dalam kisah tersebut, Anuman diminta oleh sang Rama untuk menjemput Shinta di Alenka, yang lokasinya masih misterius.

Pada beberapa terjemahan Ramayana yang cukup terkenal, Anuman diceritakan mengembangkan dirinya menjadi raksasa, dan melakukan lompatan sakti yang segera mendaratkannya menuju tanah Alenka. Pada adaptasi kontemporer karya Romo Sindhu, detail yang dituturkan oleh resi Valmiki, diceritakan kembali dengan cukup terperinci: Anuman yang kelimpungan mencari Alenka, harus dibantu Batara Surya untuk menahan matari sehingga waktunya memanjang, ditelan raksasa di tengah jalan, menyasar, digoda Gandharva kanya, dan menyeberangi laut merah sebelum menemukan Alenka.

Singkat cerita, kesulitan lapangan untuk mencapai Alenka sampai ke telinga Laksamana, Rama, dan para prajurit yang hendak mengobarkan perang dengan Rahwana. Mereka harus mengakali jarak tersebut. Resi Valmiki, dalam epos ini memberi jawaban yang sangat harfiah daripada, -misalnya, mengarang burung raksasa untuk membawa kawanan tersebut. Jawabannya: bikin jembatan. Jambavan, sang raja beruang, meminta bantuan Nala dan Nila untuk membuat jembatan/tanggul akbar yang membentangi samudera dengan bantuan para kera dan ketam-ketam kecil untuk mengangkut karang serta bebatuan.

Jembatan inilah yang kemudian menjadi Setu Rama atau jembatan Adam, rantai batu kapur yang terletak di pantai India. Fragmen kisah itu menyiratkan bahwa proses untuk mencapai titik B dari A, akan melewati tahap abstraksi sebelum muncul sebagai jembatan yang kongkrit. Bahwa, pengembaraan Anuman yang panjang (dan cenderung delusif), merupakan proses imajiner untuk mengenal soal sebelum jawaban yang efektif muncul. Dan bisa jadi, kompromis.

Salah satu tantangan dari proyek Alfa Omega adalah soal mencapai area konstruksi sekolah, yang memaksa para tukang dan pengrajin menyeberangi rawa-rawa serta sawah. Boleh dengar, untuk mengantar alat-alat berat ke sana, dibutuhkan waktu berminggu-minggu, dan setiap material baru yang datang, perlu diangkut ke sana, lagi dan lagi. Salah duanya, desakan untuk menyelesaikan proyek dalam waktu 4 bulan. Sehingga tuntutan berupa “jembatan”, sebagai alat untuk menyeberangkan kawanan manusia, muncul secara tiba-tiba. Hal ini kemudian diatasi dengan bentangan plank ramp yang kini menjadi bagian dari site plan.

Berangkat dari sana, solusi untuk soal jembatan utama pun datang dari orang asing. Pak Realrich bertemu seorang pengrajin bambu setempat, yang secara “sakti“ dapat membangun jembatan yang membelah rawa-rawa tersebut hanya dalam 2 minggu. Dalam foto prosesnya, jembatan tersebut muncul sedikit demi sedikit berupa kerangka bambu segitiga, memanjang tanggung, lalu tiba-tiba saja sudah tertutup nipah dengan bentuk atap meliuk. Maka jadilah, nadi utama Alfa Omega, lorong bambu utama tersebut, hadir mendahului rancangan utama.

Hal-hal yang serba kebetulan, tiba-tiba, dan menuntut improviasi, terselip-selip dalam proses konstruksi Alfa Omega. Lorong bambu salah satunya. merupakan trace bahwa adaptasi berupa kompromi, boleh jadi menjadi jawaban yang lebih masuk akal daripada, -misalnya, mengurug tanah ribuan meter persegi.

Would you like to comment?

Leave a Reply