Palapa Project London

Realrich is selected as currator for Palapa Project together with Andre Klauser, Alexander Taylor, Ben Wilson, Bridget Fleming, Chandra Johan, Francis Surjaseputra, Freyja Serwell, Martin Postler, Nancy Margried, Sou Fujimoto, Suzanne Lussier, Stelios Geros, Tex Saverio, dan Yoshiko Ikoma.

Here is one of the publication by media :

Bertempat di Auditorium William Soeryadjaya, Prasetiya Mulya Business School BSD City, Rabu (5/9), dipamerkan 30 produk kreatif hasil karya mahasiswa Indonesia. Semua produk kreatif ini merupakan hasil dari Kompetisi Palapa Project yang telah berlangsung sepanjang Maret hingga Juli 2013. Kompetisi ini terbuka bagi para mahasiswa seluruh Indonesia. Hasil karya yang masuk selanjutnya dikurasi sehingga terpilih 30 produk kreatif yang akan dibawa ke London untuk dipamerkan di sana. Kurator yang terlibat dalam project ini pun tidak sembarangan. Ada 15 kurator internasional yang ikut berpartisipasi, lima orang di antaranya berasal dari Indonesia. Ke-15 kurator tersebut adalah: Andre Klauser, Alexander Taylor, Ben Wilson, Bridget Fleming, Chandra Johan, Francis Surjaseputra, Freyja Serwell, Martin Postler, Nancy Margried, Realrich Sjarief, Sou Fujimoto, Suzanne Lussier, Stelios Geros, Tex Saverio, dan Yoshiko Ikoma.

Dari 30 produk kreatif yang berhasil menarik perhatian para kurator, dipilih tiga peringkat teratas yang akan ikut ke London guna menjelaskan karya mereka di depan publik. Peringkat pertama adalah Astrajingga dari Bandung. Produknya adalah sunglasses dengan bingkai kayu. Desain tersebut terinspirasi dari bentuk blangkon, sehingga motif warna kayunya juga meruncing di bagian tengah layaknya blangkon. Masih dari Bandung, di peringkat kedua ada Mandaka dengan produk berupa lampu gantung yang bagian luarnya berlapis kain lurik. Sedangkan tas tangan wanita Webe duduk di peringkat ketiga. Webe merupakan satu dari enam produk hasil karya mahasiswa Prasetiya Mulya yang masuk dalam 30 produk terpilih.

Menurut Albert Arron Pramono dari PPI UK (Perhimpunan Pelajar Indonesia – United Kingdom) selaku penyelenggara, Palapa Project ingin menghubungkan Indonesia dan Inggris lewat ekonomi kreatifnya. Ketika krisis ekonomi melanda Eropa, Inggris bisa dibilang satu-satunya negara yang berhasil selamat. Hal itu dikarenakan ekonomi kreatifnya yang telah maju dan kuat. Belajar dari situ, PPI UK ingin mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia dengan membangun networking antara pelaku ekonomi di Indonesia dengan pelaku ekonomi sekaligus pasar di Inggris.

Yang ingin ditunjukkan dengan adanya Palapa Project ini adalah Indonesia bisa menghasilkan produk kreatif, dan bukan hanya sekadar batik. Produk-produk yang masuk ke Palapa Project harus memiliki filosofi yang berakar dari kultur bangsa Indonesia. Sedangkan penilaiannya dilihat dari enam elemen, yaitu: design, content, feature functionality, usability, marketability, dan standard compliance. Untuk memasukkan karyanya, mahasiswa tersebut harus membentuk tim bersama seorang pengrajin. Mengapa?

“Mahasiswa biasanya penuh dengan ide tapi belum punya skill dan pengalaman. Nah, kekurangan itulah yang dilengkapi oleh pengrajin,” jelas Albert.

Di London, 30 produk kreatif terpilih tersebut akan dipamerkan di Bargehouse pada 4-6 Oktober 2013. Selain artist talk dengan para peringkat 1-3 dan kurator, agenda pameran tersebut adalah workshop serta networking night. Untuk info lebih lengkap tentang Palapa Project, bisa dilihat di web palapanetwork.com atau email ke enquiries@palapanetwork.com

http://www.youtube.com/watch?v=0wYnbSZYmBo

http://www.youtube.com/watch?v=1O7i1Ma1UTk

Bibliography :

text : http://news.indonesiakreatif.net/palapa-project-emerging-indonesia/

Illustration by Victorius Kendrick  : https://www.behance.net/gallery/13285089/PALAPA-PROJECT