Installation titled: 99 Percent S(w)ar(w)ang, is RAW participation on Indonesialand exhibition in Selasar Sunaryo Art Space, Bandung.

99 Percent S(w)ar(w)ang
The Second Womb
Indonesia Land 2 September 2016 – 2 Oktober 2016

Selasar Sunaryo Art Space BandungS(w)ar(w)ang juga bisa disebut 99 Persen Sarang. Kotak – kotak yang menggunakan modul per 32 cm disusun acak, terstruktur juga intuitif membentuk kerangka yang proporsional dengan dimensi yang tipis dengan menggunakan sambungan siku dengan baut. Kerangka tersebut menyiratkan bentukan kerangka jalan pikiran, sebuah sarang, dimana kotak kotak pengisinya berpendar untuk mengisi kerangka tersebut membentuk komposisi terbuka tertutup, berat ringan, padat jarang, sebuah paradoks. Detail – detail yang merupakan fragmen studio dipaparkan dalam media yang mudah dipahami yang akan dikumpulkan dalam sebuah informasi yang menggambarkan penjelajahan dalam sebuah perjalanan. Sarang menjadi satu ruang mandiri yang memamerkan sebuah proses perjalanan yang kontemplatif, yang bebas untuk diinterpretasikan.

99 Persen S(w)ar(w)ang adalah sebuah “sarang” multitafsir…
s(w)ar(w)ang merupakan sebuah wadah eksperimen yang sekaligus menjadi eksperimen itu sendiri; sebuah panggung yang penontonnya menjadi pemain, sekaligus pemainnya menjadi penonton; sebongkah otak yang berjalan dan sekaligus sepasang kaki yang berpikir.

s(w)ar)w)ang menjadi pameran yang dihasilkan dari perjalanan RAW dalam membentuk sarang. s[w]ar[w]ang atau swa-rwang (swa=mandiri, rwang=ruang), sarang adalah ruang (buatan dan milik) sendiri, yang dibuat sendiri untuk kemudian ditempati sendiri oleh RAW. Jadi, swa-rwang bukan rwang/ruang untuk ditempati oleh orang lain, tetapi sebuah pergulatan yang bersifat individual dan sangat personal.Di dalam sarang ini seluruh pekerjaan adalah terukur dan ini adalah sebuah tempat untuk mengukur dari satuan terkecil, dari fragmen produk yang dihasilkan selama 4 tahun terakhir yaitu detail dan gambar informasi yang bisa menjadi informasi hasil kriya.Sarang terbentuk dalam refleksi sebuah pemahaman terhadap kondisi dua jalan pemikiran proses desain yang paradoks. Pemahaman pertama diukur dari pergumulan manusia tentang mencipta detail yang empiris, menggunakan referensi, atau dari bentuk – bentuk yang sudah pernah diketahui dengan kombinasi bentuk baru yang kemudian dicari kembali kegunaannya dari pengalaman – pengalaman masa lalu. Disinilah proses kreatifitas selalu berusaha menembus batas dari batasan yang mengelilinginya dari angan – angan dari arsitek menuju coretan garis, seluruh aktualisasi pengalaman dalam coretan – coretan garis pertama, kedua dan seterusnya. .

Pemahaman yang kedua adalah detail – detail yang inovatif untuk mencoba menyelesaikan permasalahan dengan terukur, keteknikan tanpa peduli terhadap apa yang sudah ada dengan pertimbangan keakuratan yang tinggi. Ini adalah cerita bagaimana memanfaatkan segala keterbatasan lokasi, juga manusia – manusia pembuatnya, lokasi dan cuaca yang ada , dan manusia – manusia yang akan menggunakannya. Disinilah ada proses negosiasi dari keterbatasan sumber daya, waktu, dan lebih – lebih lagi keterbatasan pemikiran dengan orang – orang sekitar, disinilah adanya proses transfer ilmu pengetahuan, yang disengaja ataupun tidak disengaja dalam satu proses yang alamiah dalam proses mencipta arsitektur yang rasionalis juga impulsif, dan intuitif.Pengolahan – pengolahan detail selanjutnya adalah bagaimana mengaktualisasikan ke dalam fungsi bagaimana keterbangunan dari detail yang ada, bagaimana kemudahan proses perawatan, dan bagaimana menambah efisiensi seperti memperkecil beban dengan memilih material dan bentuk sambungan yang tepat untuk memperkecil biaya dan menambah kompleksitas bahasa detail dalam bentuk yang terpikirkan dan terkomunikasikan dengan tukang – tukang dari waktu ke waktu. Intensi dari detail yang didesain ada 3, yaitu desain berusaha untuk memperkecil volume barang yang dipakai (efisiensi biaya) , memperbesar celah – celah kreatifitas pekerjaan tangan (ketukangan) , memperingan berat dari volume yang didesain (kemudahan prefabrikasi).

Sedangkan Kata 99% berarti adalah sebuah proses yang hampir selesai dimana semua karya akan mengalami hal serupa dimana 1% adalah hasil interpretasi dari pengunjung, pengguna, dan 99% adalah hasil dari kerja keras seluruh pihak dalam proses pembuatan. 1% dibutuhkan untuk melengkapi 99% menyadi 100 % dimana kekuatan kritik, interpretasi, dan gelak tawa dilantunkan untuk menandai perasaan cinta ketika satu karya dinilai, dirubah, dan diredefinisi lagi untuk kebutuhan di masa depan. tanpa 1 %, 99 % tidak akan menjadi 100 % oleh karena itu, Sarang akan terbuka dalam produk dan proses untuk semua orang untuk melengkapinya.